[{"data":1,"prerenderedAt":602},["ShallowReactive",2],{"$f7_OCeAbV1q1t2MglBTMQMOfc12DfZ7oM8QCXwvS79ws":3,"budaya":319},[4,17,26,35,44,53,65,74,83,91,100,113,122,131,140,149,158,167,175,184,197,206,215,224,232,241,249,258,270,278,287,299,309],{"id":5,"url":6,"iconType":7,"category":8,"title":11,"desc":14},"s1","\u002Fsejarah","landmark",{"id":9,"en":10},"Sejarah","History",{"id":12,"en":13},"Prasasti Canggal","Canggal Inscription",{"id":15,"en":16},"Titik nol sejarah tertulis Yogyakarta — deklarasi peradaban kepada kekekalan (732 M).","Yogyakarta's written history point zero — a civilization's declaration to eternity (732 AD).",{"id":18,"url":6,"iconType":7,"category":19,"title":20,"desc":23},"s2",{"id":9,"en":10},{"id":21,"en":22},"Perang Diponegoro","Java War",{"id":24,"en":25},"Perlawanan gerilya lima tahun yang menguras kas Hindia Belanda hingga 20 juta Gulden.","Five years of guerrilla resistance that drained 20 million guilders from the Dutch East Indies treasury.",{"id":27,"url":6,"iconType":7,"category":28,"title":29,"desc":32},"s3",{"id":9,"en":10},{"id":30,"en":31},"Serangan Umum 1 Maret","March 1st General Attack",{"id":33,"en":34},"Enam jam yang membuktikan kepada PBB bahwa Republik Indonesia belum mati.","Six hours proving to the UN that the Republic of Indonesia was not dead.",{"id":36,"url":6,"iconType":7,"category":37,"title":38,"desc":41},"s4",{"id":9,"en":10},{"id":39,"en":40},"Kongres Boedi Oetomo","Boedi Oetomo Congress",{"id":42,"en":43},"Kongres pertama organisasi modern Indonesia digelar di Yogyakarta, Oktober 1908.","The first congress of Indonesia's first modern organization held in Yogyakarta, October 1908.",{"id":45,"url":6,"iconType":7,"category":46,"title":47,"desc":50},"s5",{"id":9,"en":10},{"id":48,"en":49},"Berdirinya UGM","UGM Founded",{"id":51,"en":52},"Universitas negeri pertama Indonesia didirikan di Yogyakarta, Desember 1949.","Indonesia's first national university founded in Yogyakarta, December 1949.",{"id":54,"url":55,"iconType":7,"category":56,"title":59,"desc":62},"b1","\u002Fbudaya",{"id":57,"en":58},"Budaya","Culture",{"id":60,"en":61},"Wayang Kulit Purwa","Purwa Shadow Puppets",{"id":63,"en":64},"Seni pertunjukan delapan jam semalam suntuk dengan dalang sebagai sutradara 200 karakter.","Eight-hour all-night performance art with the Dalang directing 200 characters.",{"id":66,"url":55,"iconType":7,"category":67,"title":68,"desc":71},"b2",{"id":57,"en":58},{"id":69,"en":70},"Batik Kraton","Kraton Batik",{"id":72,"en":73},"Motif larangan seperti Parang Rusak dan sistem kosmologi Jawa yang diukir di kain.","Forbidden motifs like Parang Rusak and Javanese cosmology carved into cloth.",{"id":75,"url":55,"iconType":7,"category":76,"title":77,"desc":80},"b3",{"id":57,"en":58},{"id":78,"en":79},"Gamelan Keraton","Keraton Gamelan",{"id":81,"en":82},"Demokrasi suara berusia sepuluh abad: Kyai Gunturmadu berbunyi hanya sekali setahun.","Ten-century democracy of sound: Kyai Gunturmadu plays only once a year.",{"id":84,"url":55,"iconType":7,"category":85,"title":86,"desc":88},"b4",{"id":57,"en":58},{"id":87,"en":87},"ArtJog",{"id":89,"en":90},"Festival seni kontemporer internasional tahunan dari komunitas seniman Yogyakarta.","Annual international contemporary art festival from Yogyakarta's artist community.",{"id":92,"url":55,"iconType":7,"category":93,"title":94,"desc":97},"b5",{"id":57,"en":58},{"id":95,"en":96},"Biennale Jogja","Jogja Biennial",{"id":98,"en":99},"Biennale tertua di Indonesia sejak 1988, diakui kurator seni internasional.","Indonesia's oldest biennial since 1988, recognized by international art curators.",{"id":101,"url":102,"iconType":103,"category":104,"title":107,"desc":110},"k1","\u002Fkuliner","utensils",{"id":105,"en":106},"Kuliner","Culinary",{"id":108,"en":109},"Gudeg Kraton","Kraton Gudeg",{"id":111,"en":112},"Nangka muda direbus dua belas jam di atas bara. Resep abdi dalem tidak berubah sejak 1755.","Young jackfruit slow-cooked twelve hours over embers. A royal palace recipe unchanged since 1755.",{"id":114,"url":102,"iconType":103,"category":115,"title":116,"desc":119},"k2",{"id":105,"en":106},{"id":117,"en":118},"Oseng Mercon","Firecracker Stir-Fry",{"id":120,"en":121},"Kikil sapi ditumis dengan dua genggam cabai rawit. Pedasnya membuka lapisan rasa tersembunyi.","Beef tendon stir-fried with two fistfuls of bird's-eye chili. Heat that unlocks hidden flavors.",{"id":123,"url":102,"iconType":103,"category":124,"title":125,"desc":128},"k3",{"id":105,"en":106},{"id":126,"en":127},"Sate Klathak","Klathak Satay",{"id":129,"en":130},"Daging kambing di atas jeruji sepeda besi. Hanya garam. Kepercayaan pada bahan baku.","Mutton on iron bicycle spokes. Only salt. Total confidence in the raw ingredient.",{"id":132,"url":102,"iconType":103,"category":133,"title":134,"desc":137},"k4",{"id":105,"en":106},{"id":135,"en":136},"Bakmi Jawa Arang","Javanese Charcoal Noodles",{"id":138,"en":139},"Satu porsi, satu wajan, satu arang. Buka setelah pukul delapan malam. Tutup saat bumbu habis.","One portion, one wok, one coal. Opens after eight in the evening. Closes when the spices run out.",{"id":141,"url":102,"iconType":103,"category":142,"title":143,"desc":146},"k5",{"id":105,"en":106},{"id":144,"en":145},"Nasi Kucing Angkringan","Angkringan Night Cart",{"id":147,"en":148},"Nasi sebesar kepalan tangan, seribu rupiah. Bangku panjang yang menyamakan semua orang.","Rice the size of a fist, seven cents. A long bench where everyone is equal.",{"id":150,"url":102,"iconType":103,"category":151,"title":152,"desc":155},"k6",{"id":105,"en":106},{"id":153,"en":154},"Jadah Tempe Mbah Carik","Mbah Carik's Jadah Tempe",{"id":156,"en":157},"Ketan bakar di kaki Merapi, 700 meter dpl. Empat dekade resep yang tidak berubah.","Grilled glutinous rice at Merapi's foothills, 700m elevation. Four decades, one unchanged recipe.",{"id":159,"url":102,"iconType":103,"category":160,"title":161,"desc":164},"k7",{"id":105,"en":106},{"id":162,"en":163},"Mie Lethek","Lethek Noodles",{"id":165,"en":166},"Mie singkong dari Bantul, digiling mesin enam puluh tahun. 'Lethek' berarti tidak ada yang disembunyikan.","Cassava noodles from Bantul, rolled through a sixty-year-old machine. 'Lethek' means nothing is hidden.",{"id":168,"url":102,"iconType":103,"category":169,"title":170,"desc":172},"k8",{"id":105,"en":106},{"id":171,"en":171},"Soto Kadipiro",{"id":173,"en":174},"Berdiri 1921. Kaldu bening ayam kampung semalam tanpa MSG. Seratus tahun tanpa mengubah resep.","Established 1921. Clear free-range chicken broth, overnight, no MSG. A century without changing the recipe.",{"id":176,"url":102,"iconType":103,"category":177,"title":178,"desc":181},"k9",{"id":105,"en":106},{"id":179,"en":180},"Tiwul Gunungkidul","Gunungkidul Tiwul",{"id":182,"en":183},"Tepung singkong kukus dari tanah berbatu. Bukan makanan kemiskinan — kecerdasan adaptasi manusia.","Steamed cassava flour from rocky land. Not poverty food — the intelligent adaptation of a people.",{"id":185,"url":186,"iconType":187,"category":188,"title":191,"desc":194},"w1","\u002Fwisata","mappin",{"id":189,"en":190},"Wisata","Tourism",{"id":192,"en":193},"Candi Prambanan","Prambanan Temple",{"id":195,"en":196},"Tiga menara 47 meter tanpa semen. Dibangun 856 M, masih berdiri lebih dari seribu tahun kemudian.","Three 47-meter towers built without cement in 856 AD, still standing over a thousand years later.",{"id":198,"url":186,"iconType":187,"category":199,"title":200,"desc":203},"w2",{"id":189,"en":190},{"id":201,"en":202},"Jalan Malioboro","Malioboro Street",{"id":204,"en":205},"Garis kosmologis dua kilometer yang menghubungkan api Merapi ke selatan laut.","A two-kilometer cosmological line connecting Merapi's fire to the southern sea.",{"id":207,"url":186,"iconType":187,"category":208,"title":209,"desc":212},"w3",{"id":189,"en":190},{"id":210,"en":211},"Gunung Merapi","Mount Merapi",{"id":213,"en":214},"Stratovolcano paling aktif Indonesia. Bagi warga Jogja, bukan ancaman — melainkan leluhur.","Indonesia's most active stratovolcano. For Yogyanese, not a threat — but an ancestor.",{"id":216,"url":186,"iconType":187,"category":217,"title":218,"desc":221},"w4",{"id":189,"en":190},{"id":219,"en":220},"Kawasan Kaliurang","Kaliurang Area",{"id":222,"en":223},"Resor pegunungan bersejarah di lereng selatan Merapi. Titik start pendakian dan sarapan jadah tempe.","Historic mountain resort on Merapi's southern slopes. Starting point for hikes and jadah tempe breakfast.",{"id":225,"url":186,"iconType":187,"category":226,"title":227,"desc":229},"w5",{"id":189,"en":190},{"id":228,"en":228},"Kotagede Heritage District",{"id":230,"en":231},"Makam Panembahan Senopati, Masjid Mataram 1640, dan pengrajin perak empat generasi di gang sempit.","Tomb of Panembahan Senopati, 1640 Mataram Mosque, and four-generation silver craftsmen in narrow lanes.",{"id":233,"url":186,"iconType":187,"category":234,"title":235,"desc":238},"w6",{"id":189,"en":190},{"id":236,"en":237},"Museum Ullen Sentalu","Ullen Sentalu Museum",{"id":239,"en":240},"Museum terbaik di Jawa. Menyimpan sejarah perempuan bangsawan Mataram yang tidak masuk buku sejarah.","Java's finest museum. Holding the history of Mataram royal women who never made it into history books.",{"id":242,"url":186,"iconType":187,"category":243,"title":244,"desc":246},"w7",{"id":189,"en":190},{"id":245,"en":245},"Tebing Breksi",{"id":247,"en":248},"Tebing tambang yang berubah menjadi panggung. Relief mitologi Jawa dipahat seniman lokal 2015–2020.","A quarry cliff transformed into a stage. Javanese mythological reliefs carved by local artists 2015–2020.",{"id":250,"url":186,"iconType":187,"category":251,"title":252,"desc":255},"w8",{"id":189,"en":190},{"id":253,"en":254},"Pasar Beringharjo","Beringharjo Market",{"id":256,"en":257},"Pasar sejak Mataram pertama berdiri. Bukan objek wisata — ini kota yang sedang bekerja.","A market since Mataram was first built. Not a tourist attraction — this is a city at work.",{"id":259,"url":260,"iconType":261,"category":262,"title":265,"desc":267},"t1","\u002Fteknologi","monitor",{"id":263,"en":264},"Teknologi","Technology",{"id":266,"en":266},"Silicon Wali",{"id":268,"en":269},"300+ startup aktif di koridor Ringroad Utara. Efisiensi modal yang tidak bisa ditandingi Jakarta.","300+ active startups along the North Ringroad corridor. Capital efficiency Jakarta cannot match.",{"id":271,"url":260,"iconType":261,"category":272,"title":273,"desc":275},"t2",{"id":263,"en":264},{"id":274,"en":274},"Jogja Smart Province",{"id":276,"en":277},"200+ layanan publik digital, sensor IoT mitigasi Merapi, dan tata kelola data presisi.","200+ digitized public services, Merapi IoT mitigation sensors, and precision data governance.",{"id":279,"url":260,"iconType":261,"category":280,"title":281,"desc":284},"t3",{"id":263,"en":264},{"id":282,"en":283},"Digitalisasi UMKM Jogja","Jogja SME Digitalization",{"id":285,"en":286},"60% UMKM Yogyakarta kini di platform digital. Pengrajin Kotagede menjual ke Eropa dari ponsel.","60% of Yogyakarta SMEs now on digital platforms. Kotagede craftsmen selling to Europe from their phones.",{"id":288,"url":289,"iconType":7,"category":290,"title":293,"desc":296},"p1","\u002Fpendidikan",{"id":291,"en":292},"Pendidikan","Education",{"id":294,"en":295},"Kota Pelajar","City of Students",{"id":297,"en":298},"21 perguruan tinggi, puluhan ribu lulusan STEM per tahun, 24\u002F7 ritme akademik dan komunitas.","21 universities, tens of thousands of STEM graduates per year, 24\u002F7 academic and community rhythm.",{"id":300,"url":301,"iconType":7,"category":302,"title":303,"desc":306},"p2","\u002Fpendidikan#universities",{"id":291,"en":292},{"id":304,"en":305},"Universitas di Yogyakarta","Universities in Yogyakarta",{"id":307,"en":308},"UGM (top 300 dunia), UNY, UII, UMY, Sanata Dharma, dan Atma Jaya Yogyakarta.","UGM (world top 300), UNY, UII, UMY, Sanata Dharma, and Atma Jaya Yogyakarta.",{"id":310,"url":311,"iconType":187,"category":312,"title":313,"desc":316},"p3","\u002Fpendidikan#study-spots",{"id":291,"en":292},{"id":314,"en":315},"Tempat Belajar Terbaik","Top Study Spots",{"id":317,"en":318},"Rambat Coffee, Grhatama Pustaka, Internet Learning Cafe, dan Ruang JAKA — fokus tanpa kompromi.","Rambat Coffee, Grhatama Pustaka, Internet Learning Cafe, and Ruang JAKA — focus without compromise.",{"heritage":320,"festivals":431,"hanacaraka":481},[321,344,365,387,409],{"id":322,"image":323,"category":324,"title":325,"subtitle":328,"description":331,"highlights":334,"reverse":343},"batik","\u002Fimages\u002Fbudaya\u002Fbatik.jpg","Seni Kriya · UNESCO 2009",{"id":326,"en":327},"Filosofi Batik Kraton","Kraton Batik Philosophy",{"id":329,"en":330},"Doa yang Digoreskan di Atas Lembaran Kain","Prayers Etched onto Cloth",{"id":332,"en":333},"Setiap goresan canting membawa muatan kosmologi Jawa yang tidak boleh sembarangan. Motif Parang Rusak — garis diagonal yang membelah bidang dalam ritme tak terputus — dilarang dikenakan rakyat biasa di era Mataram karena ia melambangkan kekuatan penguasa yang tidak boleh diklaim sembarang orang. Batik bukan kain bermotif; ia adalah teks yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang tahu bahasanya.","Every stroke of the canting carries Javanese cosmological weight that cannot be taken lightly. The Parang Rusak motif — diagonal lines dividing the field in unbroken rhythm — was forbidden for commoners in the Mataram era because it symbolized a ruler's power that no one else may claim. Batik is not patterned cloth; it is a text readable only by those who know its language.",{"id":335,"en":339},[336,337,338],"Motif Larangan Keraton (Parang, Kawung, Udan Liris)","Teknik Tulis vs Cap: Waktu sebagai Bahan Baku","Pewarna Soga Alami dari Kulit Kayu Soga",[340,341,342],"Royal Forbidden Motifs (Parang, Kawung, Udan Liris)","Hand-Drawn vs Stamped: Time as an Ingredient","Natural Soga Dye from Soga Bark",false,{"id":345,"image":346,"category":347,"title":348,"subtitle":349,"description":352,"highlights":355,"reverse":364},"wayang-kulit","\u002Fimages\u002Fbudaya\u002Fwayang.jpg","Seni Pertunjukan · UNESCO 2003",{"id":60,"en":61},{"id":350,"en":351},"Bayangan yang Lebih Nyata dari Realita","Shadows More Real Than Reality",{"id":353,"en":354},"Pakeliran berlangsung delapan jam tanpa jeda, dari senja hingga fajar. Dalang adalah satu-satunya seniman dunia yang sekaligus menjadi sutradara, aktor 200 karakter, komposer, dan filsuf dalam satu pertunjukan. Layar putih di antara dalang dan penonton bukan pemisah — ia adalah metafora: dunia yang kita lihat adalah bayangan dari kenyataan yang lebih dalam, dan hanya mereka yang mau duduk sepanjang malam yang mulai memahaminya.","The full performance runs eight hours without intermission, dusk to dawn. The Dalang is the only artist in the world who simultaneously acts as director, performer of 200 characters, composer, and philosopher in a single show. The white screen between Dalang and audience is not a separator — it is a metaphor: the world we see is a shadow of a deeper reality, and only those willing to sit through the night begin to understand it.",{"id":356,"en":360},[357,358,359],"Pakeliran Semalam Suntuk: Delapan Jam Tanpa Jeda","Gunungan sebagai Aksis Kosmis yang Membuka & Menutup Dunia","Sulukan & Antawecana: Bahasa yang Lahir dari Dalam Panggung",[361,362,363],"All-Night Performance: Eight Hours Without Break","Gunungan as Cosmic Axis Opening and Closing the World","Sulukan & Antawecana: Language Born from Inside the Stage",true,{"id":366,"image":367,"category":368,"title":369,"subtitle":372,"description":375,"highlights":378,"reverse":343},"gamelan","\u002Fimages\u002Fbudaya\u002Fgamelan.jpg","Pusaka Bunyi · UNESCO 2021",{"id":370,"en":371},"Gamelan Keraton Yogyakarta","Yogyakarta Keraton Gamelan",{"id":373,"en":374},"Demokrasi Suara yang Berusia Sepuluh Abad","A Ten-Century Democracy of Sound",{"id":376,"en":377},"Tidak ada instrumen prima donna dalam gamelan — setiap bagian adalah bagian dari keseluruhan, dan keseluruhan tidak bisa ada tanpa setiap bagian. Dua perangkat gamelan pusaka Keraton, Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga, hanya dimainkan pada upacara Sekaten setiap Maulid Nabi. Di luar upacara, mereka diam. Dan dalam diam itulah nilai mereka tersimpan.","There is no prima donna instrument in gamelan — every part is part of the whole, and the whole cannot exist without every part. The Keraton's two heirloom gamelan sets, Kyai Gunturmadu and Kyai Nagawilaga, are only played during the Sekaten ceremony each Mawlid. Outside ceremony, they are silent. And in that silence, their value is held.",{"id":379,"en":383},[380,381,382],"Laras Pélog & Sléndro: Dua Sistem Nada yang Berbeda Semesta","Kyai Gunturmadu: Pusaka yang Hanya Berbunyi Setahun Sekali","Dari Lancaran hingga Ketawang: Bahasa Irama Jawa",[384,385,386],"Pélog & Sléndro Scales: Two Tonal Systems from Different Universes","Kyai Gunturmadu: The Heirloom That Sounds Only Once a Year","From Lancaran to Ketawang: The Language of Javanese Rhythm",{"id":388,"image":389,"category":390,"title":391,"subtitle":394,"description":397,"highlights":400,"reverse":364},"arsitektur-keraton","\u002Fimages\u002Fbudaya\u002Fkraton.jpg","Arsitektur Tradisional",{"id":392,"en":393},"Tata Ruang Keraton Ngayogyakarta","Ngayogyakarta Palace Spatial Layout",{"id":395,"en":396},"Kota di Dalam Kota yang Dirancang Bersama Semesta","A City Within a City Designed with the Universe",{"id":398,"en":399},"Sumbu filosofi Yogyakarta — Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak, Pantai Parangtritis — bukan kebetulan geografis. Ini adalah mandala kosmologis yang direncanakan Sultan HB I sejak 1755: poros 33 kilometer yang menyatakan bahwa kota ini bukan sekadar permukiman, melainkan pernyataan tentang hubungan manusia dengan alam semesta. Desain yang lahir bukan dari kenyamanan, tapi dari keyakinan.","Yogyakarta's philosophical axis — Mount Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak, Parangtritis Beach — is no geographical accident. It is a cosmological mandala planned by Sultan HB I since 1755: a 33-kilometer axis declaring that this city is not merely a settlement, but a statement about the relationship between humanity and the universe. A design born not from convenience, but from conviction.",{"id":401,"en":405},[402,403,404],"Sumbu Filosofis 33 km: Dari Api Merapi ke Keabadian Samudera","Bangsal Kencana & Siti Hinggil: Hierarki Ruang yang Tertulis dalam Arsitektur","Hamemayu Hayuning Bawana: Memperindah Keindahan Dunia",[406,407,408],"33 km Philosophical Axis: From Merapi's Fire to the Ocean's Eternity","Golden Pavilion & Siti Hinggil: Spatial Hierarchy Written in Architecture","Hamemayu Hayuning Bawana: Beautifying the Beauty of the World",{"id":410,"image":411,"category":412,"title":413,"subtitle":416,"description":419,"highlights":422,"reverse":343},"baju-adat","\u002Fimages\u002Fbudaya\u002Fprajurit.jpg","Busana Tradisional",{"id":414,"en":415},"Busana Adat Gagrag Ngayogyakarta","Ngayogyakarta Traditional Attire",{"id":417,"en":418},"Bahasa Visual yang Bercerita tentang Siapa Anda","A Visual Language That Tells You Who Someone Is",{"id":420,"en":421},"Surjan, kebaya, blangkon, dan wiron jarik bukan sekadar penutup tubuh — mereka adalah sistem komunikasi visual yang lebih tua dari bahasa tulisan Jawa modern. Cara melipat jarik, arah corak batik, dan warna selendang semuanya menyampaikan informasi tentang status, kesempatan, dan kepatuhan kosmik pemakainya. Di Keraton, berbusana adalah tindakan politik.","Surjan, kebaya, blangkon, and jarik pleats are not merely clothing — they are a visual communication system older than modern Javanese written language. How the jarik is folded, the direction of the batik motif, the color of the sash all communicate information about the wearer's status, occasion, and cosmic obedience. In the Keraton, dressing is a political act.",{"id":423,"en":427},[424,425,426],"Filosofi Surjan & Blangkon: Identitas yang Dipakai di Kepala","Pakem Wiron Engkol: Cara Melipat yang Membedakan Derajat","Simbolisme Kebaya Kuthubaru: Keanggunan yang Bercerita",[428,429,430],"Surjan & Blangkon Philosophy: Identity Worn on the Head","Engkol Pleating Rules: A Folding Technique That Distinguishes Rank","Kuthubaru Kebaya Symbolism: Elegance That Speaks",[432,443,453,463,472],{"id":433,"name":434,"month":437,"desc":440},"sekaten",{"id":435,"en":436},"Sekaten & Pasar Malam","Sekaten & Night Market",{"id":438,"en":439},"Maulud (Rabiul Awal)","Mawlid (Rabi' al-Awwal)",{"id":441,"en":442},"Selama tujuh hari penuh, gamelan pusaka Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga berbunyi di halaman Masjid Gedhe Kauman — satu-satunya momen dalam setahun ketika instrumen sakral itu dimainkan. Sekaten bukan festival tontonan; ia adalah undangan untuk mendengar bunyi yang sebagian besar orang tidak pernah dengar.","For seven full days, the heirloom gamelan Kyai Gunturmadu and Kyai Nagawilaga sound in the courtyard of the Great Kauman Mosque — the only moment in the year these sacred instruments are played. Sekaten is not a spectator festival; it is an invitation to hear a sound most people will never hear.",{"id":444,"name":445,"month":447,"desc":450},"grebeg",{"id":446,"en":446},"Grebeg Syawal & Besar",{"id":448,"en":449},"Syawal & Dzulhijjah","Shawwal & Dhu al-Hijjah",{"id":451,"en":452},"Sultan membagikan sedekah bumi berupa 'Gunungan' — tumpeng raksasa dari hasil panen yang diarak prajurit keraton berbusana lengkap. Ketika Gunungan tiba di Masjid Gedhe, ribuan orang berebut mengambil bagian darinya, karena dipercaya membawa berkah. Di sini, kekuasaan monarki dan iman rakyat bertemu dalam satu gerakan.","The Sultan distributes earth's alms as a 'Gunungan' — a massive tumpeng of harvest yields, paraded by fully-dressed palace guards. When the Gunungan arrives at the Great Mosque, thousands rush to claim a piece of it, believed to carry blessings. Here, monarchical power and people's faith meet in a single movement.",{"id":454,"name":455,"month":457,"desc":460},"labuhan",{"id":456,"en":456},"Labuhan Alit & Ageng",{"id":458,"en":459},"Rajab & Hari Ulang Tahun Sultan","Rajab & Sultan's Anniversary",{"id":461,"en":462},"Upacara persembahan Keraton di tiga titik kosmologis: Pantai Parangtritis, lereng Gunung Merapi, dan Gunung Lawu. Abdi dalem membawa sesaji — termasuk potongan kuku dan rambut Sultan — sebagai penghormatan kepada kekuatan alam yang lebih besar. Ini adalah momen di mana monarki mengakui keterbatasannya di hadapan semesta.","A Keraton offering ceremony at three cosmological points: Parangtritis Beach, Mount Merapi's slopes, and Mount Lawu. Palace servants carry offerings — including the Sultan's nail clippings and hair — as homage to forces greater than any human power. This is the moment when monarchy acknowledges its limits before the universe.",{"id":464,"name":465,"month":466,"desc":469},"artjog",{"id":87,"en":87},{"id":467,"en":468},"Mei – Agustus","May – August",{"id":470,"en":471},"Festival seni kontemporer internasional yang lahir dari denyut komunitas seniman Yogyakarta. Digelar setiap tahun di Jogja National Museum, ArtJog menghadirkan ratusan seniman dari puluhan negara dan menjadi salah satu barometer perkembangan seni rupa kontemporer Asia Tenggara. Di kota dengan tradisi berusia seribu tahun, ArtJog membuktikan bahwa warisan tidak menutup pintu bagi eksperimen.","An international contemporary art festival born from Yogyakarta's artist community. Held annually at the Jogja National Museum, ArtJog gathers hundreds of artists from dozens of countries and serves as one of Southeast Asia's barometers for contemporary art development. In a city with a thousand-year tradition, ArtJog proves that heritage does not close the door to experimentation.",{"id":473,"name":474,"month":475,"desc":478},"biennale",{"id":95,"en":96},{"id":476,"en":477},"Oktober – Desember (Tahun Genap)","October – December (Even Years)",{"id":479,"en":480},"Biennale tertua di Indonesia, berdiri sejak 1988. Setiap edisinya menegosiasikan identitas lokal dengan perkembangan seni rupa global melalui tema yang berbeda. Yogyakarta adalah salah satu dari sedikit kota Asia yang memiliki biennale yang diakui oleh kurator internasional — bukti bahwa Jogja bukan hanya menyimpan budaya, tapi juga aktif mendefinisikan ulang artinya.","Indonesia's oldest biennial, established in 1988. Each edition negotiates local identity with global art developments through a distinct theme. Yogyakarta is one of few Asian cities with a biennial recognized by international curators — proof that Jogja does not merely preserve culture, but actively redefines what it means.",[482,488,494,500,506,512,518,524,530,536,542,548,554,560,566,572,578,584,590,596],{"script":483,"latin":484,"philosophy":485},"ꦲ","Ha",{"id":486,"en":487},"Nafas pertama yang menandai kehadiran","The first breath marking one's arrival",{"script":489,"latin":490,"philosophy":491},"ꦤ","Na",{"id":492,"en":493},"Bekas yang kita tinggalkan di dunia","The mark we leave upon the world",{"script":495,"latin":496,"philosophy":497},"ꦕ","Ca",{"id":498,"en":499},"Kata-kata yang hanya dimengerti jiwa","Words understood only by the soul",{"script":501,"latin":502,"philosophy":503},"ꦫ","Ra",{"id":504,"en":505},"Cahaya yang tidak pernah benar-benar padam","The light that never truly extinguishes",{"script":507,"latin":508,"philosophy":509},"ꦏ","Ka",{"id":510,"en":511},"Akar yang menahan ketika badai datang","Roots that hold when storms arrive",{"script":513,"latin":514,"philosophy":515},"ꦢ","Da",{"id":516,"en":517},"Inti yang tidak bisa dinodai","The core that cannot be defiled",{"script":519,"latin":520,"philosophy":521},"ꦠ","Ta",{"id":522,"en":523},"Jalan yang telah dipetakan sebelum lahir","The path mapped before birth",{"script":525,"latin":526,"philosophy":527},"ꦱ","Sa",{"id":528,"en":529},"Simpul di mana semua arah bertemu","The knot where all directions converge",{"script":531,"latin":532,"philosophy":533},"ꦮ","Wa",{"id":534,"en":535},"Tubuh yang dipinjamkan untuk sementara","The body temporarily borrowed",{"script":537,"latin":538,"philosophy":539},"ꦭ","La",{"id":540,"en":541},"Jejak yang tidak bisa dihapus waktu","Footprints that time cannot erase",{"script":543,"latin":544,"philosophy":545},"ꦥ","Pa",{"id":546,"en":547},"Tiang yang berdiri meski tanah berguncang","A pillar standing even as the earth shakes",{"script":549,"latin":550,"philosophy":551},"ꦝ","Dha",{"id":552,"en":553},"Tanah paling dalam di bawah segala lapisan","The deepest ground beneath all layers",{"script":555,"latin":556,"philosophy":557},"ꦗ","Ja",{"id":558,"en":559},"Celah di antara kegelapan yang selalu ada","The gap in darkness that always exists",{"script":561,"latin":562,"philosophy":563},"ꦪ","Ya",{"id":564,"en":565},"Kenangan tentang rumah yang belum pernah kita lihat","Memory of a home we have never seen",{"script":567,"latin":568,"philosophy":569},"ꦚ","Nya",{"id":570,"en":571},"Keyakinan yang bertahan tanpa bukti","Conviction that survives without proof",{"script":573,"latin":574,"philosophy":575},"ꦩ","Ma",{"id":576,"en":577},"Tangan yang terbuka, bukan mengepal","Open hands, not clenched fists",{"script":579,"latin":580,"philosophy":581},"ꦒ","Ga",{"id":582,"en":583},"Garis yang ditarik sejak dalam kandungan","The line drawn since the womb",{"script":585,"latin":586,"philosophy":587},"ꦧ","Ba",{"id":588,"en":589},"Yang kita bawa ketika semua yang lain tertinggal","What we carry when all else is left behind",{"script":591,"latin":592,"philosophy":593},"ꦛ","Tha",{"id":594,"en":595},"Momen ketika dua dunia saling menyentuh","The moment two worlds touch each other",{"script":597,"latin":598,"philosophy":599},"ꦔ","Nga",{"id":600,"en":601},"Kerendahan hati yang membuka langit","Humility that opens the sky",1781014936482]